Jujitsu is My Way

Pukulan, tendangan, tangkisan, jatuhan, dan bantingan serta teknik. Itu yang aku pelajari dalam Jujitsu. Semua aspek dan bagian tubuh digunakan dalam Jujitsu. Tak ada unsur yang dominan dalam salah satu gerakan saja, misal hanya tendangan atau pukulan saja. Inilah yang membuat aku bertambah jatuh cinta dengan Jujitsu. Tak ada gerakan yang dominan berarti adalah sebuah pilihan, yaitu pilihan penggunaan gerakan dalam menghadapi musuh. Contoh bila melawan musuh dengan pukulan dan tendangan saja, maka kita lawan dengan bantingan. Bila melawan musuh dengan bantingan, maka kita lawan dengan pukulan dan tendangan. Dan selebihnya terserah pengguna.

Selain itu, teknik gerakan dalam Jujitsu juga memberikan pilihan mode kita bertarung sesuai postur tubuh kita. Kita bisa main speed (Agility) untuk yang agak kurusan atau power (Strength) untuk yang agak gemukan. Tapi semuanya kembali kepada pengguna sendiri. Jujitsu intinya tidak membuat penggunanya semakin kuat, akan tetapi setiap pengguna itu dituntut untuk menemukan kekuatan yang ada pada diri sendiri dengan jalan berlatih Jujitsu. Mengapa? Pada dasarnya setiap orang itu kuat, maksudnya memiliki kekuatan sendiri-sendiri yang berbeda dengan kekuatan orang lain. Dengan latihan Jujitsu yang menyeluruh setiap anggota badan, maka kemungkinan besar untuk menggunakan kekuatan yang ada pada diri kita juga semakin besar. Selain itu bantingan Jujitsu yang menerapkan konsep Aiki atau Aikido juga memegang prinsip menggunakan kekuatan lawan, mengalirkannya, dan pada akhirnya lawan sendiri yang kena.

Bantingan, memang lebih tampak pada Jujitsu, karena ini memang inti teknik yang harus dikuasai dalam Jujitsu. Prinsipnya adalah menjatuhkan lawan dan memberikan efek down pada fisik maupun mental, sehingga membuat lawan menjadi jera secara alamiah. Logikanya, jika kita bertarung dan melukai lawan, maka besok ia akan memanggil temannya untuk mengeroyok kita. Sedangkan jika kita membunuh lawan, malah banyak pihak yang menuntut ataupun balas dendam. Tetapi jika kita dalam bertarung memberikan efek down secara fisik maupun mental kepada lawan, maka akan timbul kejeraan secara alamiah yang menyatakan bahwa lawan tak bisa mengalahkan kita. Secara prinsip, tubuh yang jatuh ke tanah lebih membuat mental down, sehingga fisik juga down. Sebisa mungkin kita juga tidak melukai musuh secara fatal. Hal inilah yang bisa dikatakan sebagai sisi feminim Jujitsu ataupun beberapa bela diri lainnya, sebisa mungkin jangan menyakiti lawan atau bahkan sampai membunuhnya. Bagaimanapun juga, lawan juga merasakan sakit yang seperti kita rasakan. Maka dari itu seyogyanya tidak melukai lawan sampai kritis.


Ingat, inti seni bela diri atau martial arts adalah art of peace, seni pembawa kedamaian, karena kita menggunakan ilmu bela diri itu adalah untuk membawa kedamaian. Saat kita berlatih dan melakukan sparring, memukul lawan itu juga memberikan rasa sakit kepada si pemukul. Logisnya, kedua pihak yang berkelahi pasti sedikit banyak pasti merasakan sakit. Setelah memahami itu, kita akan lebih memilih untuk tidak berkelahi karena memang berkelahi itu bukan solusi yang terbaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Lintas Jalur ITS

Teknologi Internet : Perkembangan Web 2.0